Senin, Juli 02, 2012

Di Balik Gerakan 30 September (G 30 S/PKI)


Sekali kayuh, dua pulau terlampaui.
Sekali pukul, dua musuh rubuh.
Agaknya seperti itulah gambaran G-30-S.

Njono, anggota Politbiro PKI dengan terus terang mengakui bahwa yang merencanakan, menggerakkan, dan bertanggung jawab terhadap gerakan kontra revolusi “Gerakan 30 September” adalah PKI.[1] Tapi setelah dilaksanakan berbagai hipotesis dan analisis, terungkap ada beberapa keanehan pada siapa dalang sebenarnya dalam Gerakan 30 September. (@yunisap)
Keanehan pertama, tiga orang penggerak G-30-S (Latief, Untung, dan Soepardjo), dikenal sebagai orang-orang dekat Soeharto. Karena itulah muncul anggapan bahwa jangan-jangan baik penggerak maupun penumpas G-30-S dimotori oleh orang yang sama atau di bawah komando Soeharto.
Kedua, ternyata satu kompi Batalyon 454 Diponegoro Jawa Tengah dan satu kompi Batalyon 530 Brawijaya Jawa Timur, yang secara terselubung digunakan sebagai penggerak G-30-S (bahkan belakangan Batalyon 530 juga digunakan Soeharto untuk menumpas G-30-S), ternyata merupakan pasukan Raider elite yang menerima bantuan AS sejak 1962.
Lebih dari itu, para penggerak Gestapu ternyata pernah dilatih di AS. Ini menarik karena dalam tradisi yang dikembangkan di Pentagon, setiap orang asing yang mengikuti pelatihan tersebut merupakan orang-orang yang telah melewati seleksi ketat dinas Intelijen Amerika. Karena itu cukup mengejutkan bahwa ketiga penggerak utama G-30-S itu ternyata merupakan kader Komunis.
Namun di mata seorang sumber yang pernah dibina langsung oleh CIA, hal semacam itu dapat saja terjadi. Ada beberapa pola perekrutan yang lazim dilakukan oleh CIA. Pertama, beberapa orang direkrut dan dibina dengan maksud untuk dijadikan bagian langsung dari organ CIA. Kedua, ada orang yang direkrut semata-mata untuk tujuan yang bersifat temporer. Ketiga, boleh jadi orang yang direkrut tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan tertentu.
Dengan jalan berfikir seperti itu, bukan tidak mungkin Untung, Latief, dan Soepardjo secara sadar diterima dalam jaringan CIA justru untuk digunakan sebagai penunjang sekenario besar CIA menggulingkan Bung Karno, sekaligus menghancurkan PKI. Soalnya sekarang, jika penggerak dan penumpas G-30-S merupakan suatu tatanan yang tunggal dibawah komando Soeharto, wajar kalau ada pertanyaan seberapa jauh hubungan Soeharto dengan CIA.
Perlu diketahui, sekelompok kecil peneliti akademis AS yang dimotori Dr. Guy Pauker mulai mengadakan kontak dengan pihak angkatan darat. Tujuannya menggalang kekuatan anti komunis di Indonesia. Salah seorang kawan dekat Pauker di angkatan darat adalah wakil komandan SSKAD Jenderal Suwarto seorang perwira lulusan AS. Sementara itu pada tanggal 1959, Soeharto yang waktu itu masih berpangkat kolonel, mulai masuk SSKAD.
Di situlah kontak intensif Suwarto-Soeharto bermula. Sejak itu, Suwarto membina Soeharto dalam penyusunan doktrin perang wilayah dan operasi karya. Operasi karya mendapat bantuan penuh dari Amerika melalui suatu program yang disebut MILTAG. Operasi karya resminya merupakan proyek-proyek sipil tapi merupakan operasi terselubung untuk membangun kontak-kontak dengan unsur-unsur anti komunis dalam angkatan darat beserta organisasi wilayahnya.
Besar kemungkinan, berbagai manuver membina Soeharto dalam rangka menjalankan rencana Amerika mendongkel Bung Karno pun dimulai. Menurut keterangan berbagai sumber, beberapa bulan menjelang meletusnya G-30-S, beberapa veteran PRRI/Permesta di bawah pimpinan Yan Walandouw berkunjung ke Wasington. Tujuannya meminta dukungan Amerika agar Soeharto dapat menjadi Presiden mengganti Bung Karno.
Mengapa CIA memilih Soeharto? Karena saat itu Soeharto adalah pihak yang sakit hati. Betapa tidak, antara 1956-1959, Soeharto menjabat sebagai Pangdam Diponegoro. Namun, pada perkembangannya, Nasution melihat ada indikasi keterlibatan Soeharto dalam tindak korupsi dan penyelundupan. Alhasil, jabatan Soeharto dicopot. Sebagai gantinya, dia dikirim ke SSKAD untuk tugas belajar. Saat di SSKAAD sempat ada usul Soeharto menjadi ketua senat. Akan tetapi usulan itu ditentang oleh D.I. Panjaitan. Alasannya, watak Soeharto yang kurang baik. Soeharto pun jengkel terhadap D.I. Panjaitan. Di samping itu, profil Soeharto sebagai perwira bisnis. Kongsi dagang yang terjalin antara dirinya dengan pengusaha Cina, Liem Sioe Liong dan Bob Hasan, semakin memperkuat sosok semacam itu. Bayangkan, menjalankan tugas-tugas kemiliteran sembari berdagang.
Dalam situasi demikian, sasaran skenario Soeharto-CIA jadi jelas, yaitu menyingkirkan para perwira angkatan darat yang dianggap loyal kepada Bung Karno. Sekaligus, menciptakan kesan adanya konspirasi AURI-PKI dalam mendalangi G-30- S. Boleh jadi, ini pun merupakan bagian dari skenario besar CIA untuk menyingkirkan AURI, yang dianggap dekat dengan Bung Karno.[2]
Sejak awal, Soeharto sangat dekat dengan orang-orang PKI seperti Sjam Kamaruzzaman saat di perkumpulan Patuk. Kemudian, Untung dan Latief juga sudah menjalin hubungan perkoncoan. Namun, oleh PKI Soeharto dianggap sebagai orang yang tidak tepat dijadikan kader. Moralnya dianggap kurang baik dan tidak bisa dipercaya. Tapi, Biro khusus tidak melepaskannya. Ia tetap dibina dengan kategori sebagai “orang yang dimanfaatkan”. Walau akhirnya ia jauh lebih licin dibanding pihak yang memanfaatkannya.
Target awal pelaku G-30-S adalah membunuh Presiden Sukarno. Ini akan dilakukan saat peringatan Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1965. Pembunuhan dibuat seperti pembunuhan presiden Mesir Anwar Sadat. Ketika pasukan berparade, Soekarno ditembak di panggung kehormatan. Yang bertugas memberondong presiden adalah pasukan Batalyon 503 Brawijaya dan Batalyon 454 Diponegoro. Batalyon ini memang khusus diundang oleh Pangkostrad untuk mengikuti upacara. Anggota diperintahkan untuk mengisi peluru secara penuh semua senjata yang dibawanya. Tapi, hal itu diketahui secara tak sengaja oleh komandan Batalyon 305 Ali Rahman yang juga hadir. Ali Rahman bingung karena pasukannya tidak diberi peluru. Kegagalan rencana dalam membunuh Soekarno dalam upacara hari angkatan bersenjata merupakan sebab perubahan sekenario gerakan. Maka, digunakan skenario baru, yakni menempatkan Soekarno dan Aidit dalam satu paket dalang gerakan.
Ini suatu indikasi, ada koordinasi antara Soeharto dengan para pelaku G-30-S. Sebab, kedua Batalyon itu yang ditugaskan untuk mengepung istana, sejak malam penculikan (30 September) hingga esok hari. Apalagi ternyata pada pagi 1 Oktober itu, Brigjen Soepardjo mengaku ditugaskan untuk menekan, bila perlu membunuh Presiden Soekarno. Tapi, malam itu Presiden Tidak bermalam di Istana merdeka.
Sebenarnya, Soeharto sudah tahu akan adanya gerakan. Oleh para jenderal, Soeharto waktu itu dianggap bodoh. Karena itu tidak masuk Dewan Jenderal yang dipimpin Pak Yani. Tapi, ia lihai memanfaatkan situasi. Ia membiarkan semua jenderal dihabisi, lalu menghabisi PKI sampai ke akar akarnya.
Soeharto mengulur-ulur waktu buat merebut kembali RRI, padahal gedung RRI berada di seberang markas Kostrad.  Keganjilan lain, mengapa Soeharto yang sudah memerintahkan Batalyon 530 berjaga-jaga di kawasan Monas dan Istana Negara, yang juga berdekatan dengan RRI dan kantor telekomunikasi yang diduduki para pelaku, tidak bertindak cepat, serta membiarkan para pelaku bertindak semaunya?
Meledaknya G-30-S seperti membuat Soeharto merasa bisa bertindak apa pun. Atas bantuan CIA, dia membantai tak kurang dari 250.000 nyawa. Aksi pembantaian didahului dengan mengkondisikan masyarakat Indonesia antipati terhadap PKI melalui berita media massa bahwa PKI telah melakukan penyiksaan biadab terhadap para jenderal yang menjadi korban G-30-S. Dan, ini sangat efektif membakar emosi massa.
Soeharto tidak hanya keras terhadap lawan-lawannya, tetapi juga terhadap teman-teman  dekat yang banyak membantunya mencapai kekuasaan. Metode yang dipakai Soeharto adalah habis manis sepah dibuang. Soeharto juga tangkas menyingkirkan kawan-kawannya yang berpotensi menyaingi figurnya. Itu dilakukan untuk terhindar dari fenomena ratu kembar. Soeharto dan G-30-S mengingatkan perebutan kekuasaan ala Ken Arok dengan keris empu gandringnya atau Joko Tingkir dengan kerbau dadung awuknya. Ajaib!

Catatan Kaki:
                [1] Benedict R O’G Anderson dan Ruth T McVey, Kudeta 1 Oktober 1965; Sebuah Analisis Awal, LKPSM-Syarikat, Yogyakarta, 2001, hlm. 268.
                [2] Syamdani, Kontroversi Sejarah di Indonesia, Grasindo, Jakarta, 2001, hlm. 107-111.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar