pasang

WANITA TITISAN SURGA

Sang Pecinta
Agi pun sudah duduk mepet-pet di samping Auna. Keduanya saling pandang-memandang dengan penuh harap-harap mesra. Sungguh, bibir Auna tampak begitu indah, basah, sexy. Bikin ihhhhhhh!
“Kamu sayang nggak sama aku....?” ucap Auna manja.
“Aku sayang..... sangaaaaaat sayang.” balas Agi dengan mesranya.
Sebentar kemudian mata Auna menutup. Tanpa ada sutradaranya pun, Agi langsung ngerti akan adegan selanjutnya. Ia siap mengecup bibir Auna yang merona pasrah.
“Tok-tok-tok! Agi bangun...!” Pak Made mengetuk pintu dari luar kamar. Tapi Agi tetap tak peduli, ia tetap mendekatkan bibirnya yang sudah monyong lima mili itu ke bibir Auna.
“Tok-tok-tok-tok!! Agiii!! Ayo buruan bangunnya, sudah jam setengah enam lho!” Sekarang suara Pak Made agak keras hingga Agi kaget.
“Iya-iya, udah bangun kok!” sekedar menjawab dengan suara mangkel karena sebel. “Ternyata cuma mimpi,” gumam Agi. Ia masih terbayang-bayang dengan adegan di mimpinya. Tersenyum-senyum sendiri sambil meraba-raba bibirnya. Lupa akan iler yang baunya kemana-mana. Huwekkkkkk!
Itulah akibatnya jika terlalu mengidolakan wanita, tidur pun sampai kebawa. Saya harap, nenek-nenek sekalian bilangin tuh para cucu lakinya supaya jangan terlalu ngebet sama wanita. Biar kakeknya saja yang ngebet. Lho!?

+++++
Agi Raluzu adalah seorang pemuda berpostur tubuhnya kurus, tapi sexy. Potongan rambutnya agak gondrong di bagian depan serta berombak di bagian ujung-ujungnya dan wajahnya cukup pas jika dikategorikan kebelet pipis. Baru dua bulan ia menyandang status sebagai mahasiswa sejarah di Universitas Hayam wuruk yaitu sejak awal Agustus 2005. Tapi ia sudah dikenal oleh para senior gara-gara resensi bukunya telah dimuat di sebuah koran nasional.
Di kampus Agi jarang bicara, tapi kalau sudah di depan cermin, terutama cermin yang ada di tempat sepi dan gelap, ia sering betah bicara sendiri. Memuji-muji kalau dirinya itu ganteng. Serta berkata-kata bahwa dirinya merupakan tipe cowok yang setia.
Memang sih, boleh dibilang ia adalah pecinta wanita, pemuja kecantikan, dan pengagum kaum perempuan. Itu terlihat dari sifatnya yang mudah suka cowek, eh, cewek. Hingga waktunya selama ini hanya dihabiskan untuk naksir cewek.
Asyiknya, cewek-cewek yang ia taksir namanya selalu pakai na. Mulai dari teman TK-nya si Vena, teman SD-nya si Hervina, teman SMP-nya si Dina, teman SMA-nya si Mona, dan yang masih sekarang ini si bunga desanya yang bernama Auna Baby Pink yang barusan diimpikannya.
Bahkan juga na-na yang lain. Misalkan ada orang membicarakan tentang sesuatu dan menyebut salah seorang yang namanya pakai na, pasti Agi ikut nimbrung. Pingin tahu. Seperti kemarin saat teman-teman kampungnya membicarakan Dona, tiba-tiba Agi datang dan langsung bilang: “Pasti Dona cantik ya? Mbok aku dikenalin!”
“Dona tuh laki-laki. Ck-ck-ck!” Jawab temen-temennya sembari cekikikan.
Agi berkesimpulan bahwa yang namanya pakai na, pasti orangnya istimewa, mempunyai nilai kewanitaan yang lebih. Memang, kedengarannya aneh dan tidak masuk akal. Tapi buat Agi yang sudah kecanduan na, itu sangatlah masuk akal.
Menurut Agi, na adalah perpaduan dua huruf yang luar biasa. Jika diucapkan bunyinya lebih dari merdu, entah apa namanya. Pokoknya membuat telinga nyenyak. Mungkin hidung pun akan menari jika ngedengarnya. Tapi sayang, hidung hanya membau. Namun jika memiliki bau pasti lebih harum dari peri, tentunya yang habis mandi dan pakai wangi-wangi.
Yang pasti, setiap mendengar nama yang pakai na, Agi langsung terbayang sosok wanita yang wajahnya cantik, tubuhnya sexy, baik hati lagi. Dan itu semua sudah ada pada diri si Auna Baby Pink.
Ngomongin si Auna Baby Pink, jadi teringat akan perihal yang membuat namanya pakai pink. Nama itu adalah pemberian sang ayah yang doyan warna pink. Ayahnya memang suka berpenampilan serba pink hingga brengosnya juga pernah dicat warna pink.
Tapi anehnya, walau namanya pakai pink, Auna sangat menghindari pakaian yang berwarna pink. Itu karena saat kecil ketika selalu memakai pakaian berwarna pink, dia sering dikejar-kejar perempuan gila yang teredan-edan pada warna pink. Perempuan itu gila karena keinginannya memiliki baju warna pink tidak keturutan.
Melihat Auna memakai pakaian serba pink, maka si perempuan gila jadi iri. Jadi kepingin merebut. Hingga dia selalu mengejar-ngejar Auna, mencari-cari Auna. Selalu nungguin Auna di depan rumah sambil berceloteh, “Kembalikan bantalku, eh, bajukuuu... Kembalikan anak nakaal... Kamu ndak pantes pakai baju itu, aku lebih pantes! Kalau ndak mau ngembalikan, kudoain kamu juga akan gila seperti aku. Huhuhuhu...”
Karena takut, Auna pun menyuruh sang ayah agar memberikan seluruh pakaiannya yang berwarna pink kepada si perempuan gila dengan harapan perempuan gila akan lekas sembuh dan tidak lagi mengejar-ngejarnya. Perempuan gila pun senang dan langsung buru-buru mencoba seluruh pakaian yang diterimanya. Tetapi ketika dipakai, pakaian-pakaian itu tak ada yang muat hingga malah robek semua. Walhasil, perempuan gila mengamuk dan menjadi semakin gila. Dan sejak kejadian itulah Auna tidak pernah lagi memakai pakaian yang berwarna pink.
+++++>
Sampai saat ini tidak ada satu cewek pun yang tahu kalau sudah dijatuhi cinta sama Agi. Jadi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tak bunyi gitu! Tapi toh ia tetap puas dengan yang dialaminya selama ini. Soalnya ia sangat yakin bahwa jodoh itu sudah ditentukan oleh Yang Mahakuasa. Jadi sebagai hamba, ia tinggal menunggu dengan pasrah. Jika tak kunjung juga, ya itu sudah nasib, sudah takdir.
Menurut Agi, pacaran itu hanya akan buang-buang waktu, buang-buang tenaga, juga buang-buang duit. Giliran dengar buang-buang duit, tuh... orang-orang sekampung pada melongo siap rebutan.
Tapi ya itu tadi, karena saking kepinginnya, Agi malah selalu mimpi. Saking sukanya sama wanita, saking ngilernya sama wanita, sampai bantalnya penuh iler juga.
Sama seperti sekarang ini, Agi telah mencintai Auna selama lima tahun. Bayangkan, lima tahun! Sudah....? Tentu sudah. Ya, Agi menyukai Auna sejak dia pindah dari Jakarta dan menetap di kampung tempat Agi tinggal. Saat itu Agi masih kelas dua SMP dan Auna juga kelas dua SMP. Selama lima tahun itu, Agi selalu mengidam-idamkan Auna. Apa pun yang dipikirkannya semua tentang Auna. Tidur mimpiin Auna, makan ingat Auna, mandi ngelamunin Auna, sampai nongkrong di WC pun ngebayangin Auna. Serem ya!
Sayangnya cintanya itu hanya terpendam dalam hati. Ia tidak berani ngungkapin. Apa itu namanya cinta? Itu sih hanya cita-cita cinta. Masak, cinta kok dipendam, nanti malah keburu digali orang.
Paling-paling yang Agi bisa hanya menuangkan perasaannya itu di kertas hingga membentuk sebuah puisi. Seperti kemarin ketika habis ngelihat Auna, di rumah ia langsung ngebayang wajahnya sambil menulis puisi walaupun listrik mati. Kok bisa? Soalnya nulisnya siang hari, di atas pohon pace lagi. Untuk kaliyan semua, akan saya bacakan puisi yang berhasil saya curi.
Sudah siap! Satu...... Dua...... Tiggg..... Eh, maaf perut saya sakit, mau kentut nich. Entar dulu yaaa....!
Dah, tidak bau kan! Jelas tidak bau, karena kentutnya saja tidak mau keluar. Hehe...
Dia mau keluar jika yang baca puisi orangnya cakep. Sedang saya sendiri tidak cakep. Saya berharap, moga-moga kaliyan semua yang baca pada cakep. Tapi...... wah-wah, kok malah terus pada ngaca semua. Percaya deh kalau kaliyan itu cakep. Tapi buruan baca puisinya dong! Sudah tidak tahan nich!

Wajahmu,
Memancar rona harum tiada tara
Kunikmati bibir bersenyum manja
Dengan gigi putih di sudutnya
Sungguh manis senyumu melebihi rasa

Tubuhmu,
Lebih indah dari pulau dewata
Dengan lekuk menggugah selera
Dan tangan yang masih perawan

Suaramu,
Tanpa iringan musik pun
Bikin jempol kaki menari-nari

Aku berjanji,
Akan melakukan apapun demi kau

Jika dalam semalam,
Bandung Bandawasa sanggup bikin seribu candi
Aku juga sanggup tidur semalam

Maksudku,
Biar terbentuk pulau seribu
Di bantalku.

Legaaaaa....! Makasih ya, ternyata kaliyan memang pada cakep semua. Pastinya lebih cakep dari kentut saya. Hehe....
+++++>
Agi tinggal di Kampung Bau Pace, yaitu sebuah kampung di kota Bantul, Yogyakarta. Letaknya kira-kira 17 km di sebelah Selatan Kraton Yogyakarta. Dari jalan raya Bantul terus ke Selatan sampai jalan Samas. Kemudian setelah ada bendungan air yang pertama di sebelah kanan, langsung belok ke kiri kurang lebih 200 km. Nah, di Selatan jalan beraspal tidak rata itulah letak Kampung Bau Pace berada.
Di Kampung Bau Pace itu, Agi tinggal bersama keluarganya yang terdiri dari Bapak, Kakek dan nenek. Ibunya yang bernama Ana Raluzu telah meninggal saat melahirkannya. Makanya Agi tidak sempet ngerasain yang namanya air susu ibu, dan sampai sekarang tiap melihat bayi yang menyusu, ia sangat iri. Pingin merebut. Hehe..
Keluarga Agi terkenal dengan sebutan keluarga raluzu. Bagi seseorang yang telah masuk ke dalam anggota keluarga Raluzu, dia wajib memakai nama raluzu sebagai nama belakang. Seperti bapak Agi yang bernama I Made Sue, setelah menikah dengan ibu Agi, maka namanya ditambah raluzu di bagian belakang hingga menjadi I Made Sue Raluzu.
Pak Made itu berasal dari Bali. Wajahnya agak serem tapi sifatnya agak feminim. Mungkin itu pengaruh posisinya yang juga sebagai seorang ibu bagi putranya. Untuk memenuhi kebutuhan, dia bekerja sebagai penjahit. Dulu dia punya kios di jalan Bantul tapi sudah dijual untuk biaya kuliah Agi, jadi sekarang menjahitnya cuma di rumah. Kalau lagi tidak ada kerjaan, dia suka menjahit sembarang pakaian. Termasuk pakaian kakek dan nenek Agi yang sudah bolong-bolong dan sudah mau dikubur. Hingga si kakek dan nenek terpaksa memakai pakaian yang sudah bau kubur.
Kakek dan nenek Agi bernama Suro Raluzu. Keduanya bagai sepasang sandal jepit. Kemana pun selalu bersama. Kecuali mandi. Karena nenek tidak mau lagi mandi bareng kakek. Katanya dia sudah kapok. Kapok karena kakek selalu minta dimandiin, kayak anak kecil.
Keseharian kedua orang tua berpenampilan modise kadaluarsa itu adalah sibuk mengurusi pohon pace (mengkudu) di kebun belakang rumah. Penghasilan yang didapat dari berkebun pace itu cukup lumayan. Selain bisa ditabung untuk hari tua (padahal sudah tua), juga bisa buat beli VCD dang-dut kesukaan keduanya. Hingga bisa goyang-senggol bersama.
Dalam usaha berkebun pace, mereka tidak hanya sendiri. Tetangga-tetangganya juga banyak yang berkebun pace. Memang, Kampung Bau Pace terkenal sebagai pemasok buah pace skala ekspor. Di setiap musim hujan, bau pace dari kampung itu sampai kemana-mana, makanya kampung itu dijuluki Kampung Bau Pace.
Rutinitas Agi setiap pagi adalah berbelanja membeli lauk di warung Mbok Iyul, yaitu satu-satunya warung di Kampung Bau Pace yang menjual ratengan (masakan siap saji). Di sana masakannya lengkap-kap, pokoknya empat sehat lima lebih sehat deh! Agi pergi belanja selalu dengan jalan kaki saja karena letaknya tidak jauh, sekitar seratus lompatan nenek-nenek tua. (1 lompatan = 2 meter, tapi jangan dibayangin cara melompat ya! Hehe...)
Agi mau berbelanja itu atas kemauannya sendiri. Padahal dulu-dulunya ia tidak mau karena malu. Tapi sejak tahu bahwa si Auna juga suka berbelanja di situ, ia jadi termotivasi. Jadi rajin bangun pagi walau lagi asyik-ayiknya mimpi.
Pak Made memang sempat terheran-heran dan bertanya: ”Lho, kamu kok jadi rajin?”
Jawabnya: “Iya dong, karena rajin itu pangkal pandai dan hemat pangkal kaya.”
Seperti pagi ini, setelah dibangunin bapaknya, ia buru-buru beranjak dari tempat tidur. Lalu ambil air wudu, terus melaksanakan Sholat Subuh. Kemudian ke kamar mandi untuk menggosok gigi plus merapikan rambutnya. Selanjutnya mengenakan pakaian gaulnya, memakai sepatu barunya, menggendong tasnya.
Dan ketika bapaknya nanya, “Lho-lho, kamu mau kemana?”
Si Agi hanya bisa garuk-garuk kepala. Lalu menaruh tas serta melepas sepatunya dan akhirnya go to the Mbok Iyul.
Sementara Agi pergi, Kakek Suro dan Nenek Suro masih tampak tidur pulas dalam satu ranjang. Keduanya tidur berpelukan bagai sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Mereka memang sering bangun agak siangan.
+++++>
Warung Mbok Iyul bentuknya cukup sederhana. Semua bahan bangunan menggunakan bambu kecuali atapnya. Dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu yang disebut gedhek. Seperti biasanya, sejak subuh di depan warung itu sudah terbentuk dua antrian, sektor kiri adalah regu antrian beli lauk-pauk sedang sektor kanan adalah regu antrian untuk membeli nasi, bubur, dan jenang.
Agi yang sudah sampai di warung Mbok Iyul, memandangi dulu kedua antrian yang sudah agak panjang itu. Ia melihat Auna yang diimpikannya barusan, berada di antrian sebelah kanan dan kebetulan di barisan paling belakang. Tanpa pikir panjang, Agi pun langsung ikut ngantri di belakangnya. Tapi, baru di belakang Auna saja, Agi sudah nervous. Dadanya terasa berdebar-debar. Kakinya bergetar karena tidak pakai alas kaki, lupa! Otaknya berputar-putar pusing menyusun kalimat untuk berbicara.
Agi mencoba mengumpulkan tenaga plus keberaniannya. Lalu mulai nanya, “Eh, Auna..., ka..kamu kok pagian...?”
Auna pun menoleh dan segera tersungging senyum manisnya, “Eh Mas Agi.. Ini, tadi bangunnya telat jadi kesiangan.”
“S-sama dong..!” suara Agi agak tersendat. Ia tersanjung dipangil Mas oleh Auna. Mungkin panggilan Mas itu biasa, tapi buat Agi panggilan itu terasa special, meresap dalam hati hingga membuat hatinya seperti dielus-elus. Dan karena panggilan itu, Agi semakin kagum kepada Auna.
Setelah berfikir sejenak, Agi bertanya lagi, “Eh, kamu nanti masuknya jam berapa...?” Maksudnya masuk kuliah. Karena Auna juga kuliah. Dia kuliah di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) mengambil jurusan PGSD. Ia pingin jadi guru SD. Sungguh cita-cita yang mulia.
“Hari ini aku libur.” Jawab si cantik.
“Lha trus... masuknya tiap hari apa...?”
“Aku masuknya cuman hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis.”
“Enak ya, banyak liburnya...!”
“Nggak juga, aku malah seneng dikit liburnya. Kalau banyak liburnya kan rugi, karena libur pun kita harus bayar.”
“Benar juga ya...!?” Agi hanya manut-manut saja, tidak berani menentang. Siapa yang berani menentang sama pujaan hati! Seumpama dia bilang satu tambah satu sama dengan sebelas saja, pasti Agi membenarkan. Mungkin karena setelah dipikir-pikir, jika nulis angka satu lalu ditambahkan nulis angka satu lagi di sampingnya, jadinya angka sebelas.
Tidak terasa, giliran pun sudah nyampai pada Auna. Dia langsung memesan dua porsi bubur ayam untuk ayah dan dirinya sendiri. Keluarganya memang tinggal ayahnya yang bernama Pak Hatmoyo si pengusaha batik. Sedang ibunya telah meninggal saat melahirkannya, jadi nasibnya seperti Agi. Tapi walaupun tinggal sang ayah, Auna sangat bahagia. Karena Ayahnya itu sangat sayang kepadanya. Tentang bubur ayam, adalah makanan favorit keluarga Auna. Bubur ayam buatan Mbok Iyul rasanya sangat enak, sehingga Ayah Auna selalu ketagihan.
Auna memperhatikan penjual yang sedang meracik dua porsi bubur ayam di rantang yang dibawanya. Sementara itu Agi asyik dengan lamunannya. Ia memikirkan si Auna yang ada di depannya. Pikirannya melayang bagai layang-layang putus. Kemudian benar-benar putus setelah mendengar suara gadis yang dilamunin berpamitan.
“Aku duluan ya..!”
“Oh, ya-ya..!” Agi tergagap. Ia pun tinggal bisa memandang Auna. Memandang bentuk bodinya yang kayak biola. Memandang cara berjalannya, kiri-kanan-kiri-kanan-kiri, jadi teringat burung pinguin.
“Eh, Mas Agi mau beli apa?” Tanya penjual.
Ditanya begitu, Agi malah bengong. Kemudian baru teringat bahwa ia itu disuruh beli lauk. Padahal kalau beli lauk itu seharusnya ngantrinya di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan. Jadi Agi salah posisi.
“Oh maaf..., saya keliru ngantrinya...” jawab Agi cengar-cengir. Ia pun jadi malu terus buru-buru ambil posisi ngantri di sebelah kiri, di belakang ibu-ibu gendhut yang belum mandi.
+++++>
Pulang dari tempat Mbok Iyul, jam sudah menunjukkan pukul enam lebih duapuluh menit. Padahal Agi masuk kuliahnya pukul tujuh lebih sepuluh menit. Jika untuk perjalanan empat puluh menit, untuk makan lima menit, untuk mandi lima menit, untuk bersolek lima belas menit, maka waktunya tidak cukup. Akhirnya ia hanya sempat memakai sepatunya saja, tidak makan, tidak mandi, tidak pakai wangi-wangi. Bau!
“Pak, Agi berangkat dulu ya!” pamitnya pada Pak Made. Kemudian dilanjutkan mencium tangan bapaknya itu.
Bapaknya membalas mencium pipi kanan-kiri Agi seperti biasa, terus bilang, “Lho kok buru-buru, nggak sarapan dulu?”
“Waktunya dah mepet, nanti sarapan di kampus saja.” Sahut Agi yang segera menggenjot si Pitung (panggilan untuk sepeda motor honda tujuh puluhnya).
“Hati-hati ya di jalan, awas jangan ngebut lho!” pesan Pak Made.
“Iya... Da-daaag!” Agi melambaikan tangan.
Kemudian ia melajukan Honda tua itu dengan gaya pembalap Valentino Rossi. Anak-anak jalan kaki disalipnya. Tukang becak disalipnya. Orang naik sepeda disalipnya. Vespa yang jalannya lambat nekad disalip juga. Tapi giliran bus tidak disalipnya. Malah saat bus berhenti, Agi juga ikut berhenti di belakangnya. Bukannya ia takut menyalip bus, tapi tuh lihat! Di bokong Bus ada tulisan: YANG MENYALIP BERARTI MONYET. Agi tidak mau dikatakan monyet, ia kan ganteng. Ia malah cekikikan melihat pengendara lain pada nyalip, sambil bilang, “Dasar monyet semua. Hahahaha...!”
Jalanan di kota Yogyakarta saat itu agak macet dan tampaknya semakinhari semakin macet. Setiap hari kendaraan yang meramaikan jalan bertambah jumlahnya. Itu akibat dari pabrik kendaraan yang terus memproduksi tanpa henti. Padahal kendaraan-kendaraan yang sudah usang tidak kunjung dibuang. Katanya sayang kalau dibuang, masih bisa dikendarai. Kalau dibuang pun, nanti pasti jadi rebutan para pemulung dan akan dipakai lagi.
+++++>
Nyampai di tempat kuliah, Agi buru-buru memarkir motornya sembarangan. Dasarnya tempat parkir itu sudah penuh. Jadi yang datangnya terlambat ya tinggal kebagian di bagian yang tidak ada atapnya dan harus rela jika kendaraanya nanti kepanasan atau kehujanan. Juga rela kalau kejatuhan tahi burung yang katanya bau itu.
Kemudian Agi mengeluarkan HP dari saku celananya. Saat menengok jam di HP, ternyata jam telah menunjuk pukul tujuh lebih dua puluh menit, berarti ia sudah telat sepuluh menit. Dalam keadaan begitu, rasa ingin pipis malah menggejolak. Memang sudah menjadi kebiasaan Agi, kalau setiap nyampai di kampus pasti kebelet pipis.
Agi pun segera menuju ke kamar kecil dekat parkiran yang sebenarnya tercipta khusus buat tukang parkir. Tapi ketika mau masuk ia dicegat oleh tukang parkir. Ternyata si tukang parkir juga kebelet pipis. Karena kamar kecilnya hanya satu maka Agi pun harus mengalah dan rela menunggu sampai si tukang parkir selesai pipisnya.
Selesai pipis Agi langsung berlari menuju ke ruang kuliah. Sebuah kaleng minuman yang menghalangi ditendangnya. Sebuah selokan kecil yang melintang dilompatinya. Sebuah lubang semut dilangkahinya, tapi astaga, Agi malah jatuh terpeleset. Tapi tenang, tidak ada orang yang melihat. Hanya semut-semut hitam di sekitar lobang saja yang melihat dan untungnya mereka tidak ngetawain.
Dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak ternilai harganya, akhirnya sampai juga di ruang G.111 tempat kuliahnya sekarang. Namun alangkah terkejutnya ketika ruang kuliah itu masih kosong-blong. Sepi! Apa ruangannya diganti?
Sebuah pengumuman terpasang di pintu. Lalu Agi membacanya: Untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Politik, jam kuliahnya diganti jam kedua yaitu pukul 09.00. Ruangan tetep sama di G. 111. Agi pun lemas dan masuk ke dalam ruangan. Kemudian duduk melamun sambil mengorek-orek upilnya pakai jari. Terus upilnya itu dilelet-leletin ke kursi. Pantesan banyak kursi dirubung semut. Asin kali ya?
Universitas Hayam Wuruk adalah universitas ternama di Yogyakarta. Universitas ini selalu diidam-idamkan oleh para siswa lulusan SMA. Tiap tahun, puluhan ribu pendaftar yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, sudah berebut mengincar kursi di universitas itu, walaupun banyak kursi yang nasibnya seperti kursi yang diduduki Agi tadi, bahkan lebih parah.
Para orang tua akan berusaha maksimal agar anaknya diterima. Mereka rela walau harus kehilangan seluruh isi dompetnya. Bahkan ada yang sampai rela memberikan dompet satu-satunya, karena memang dompetnya sudah jelek. Menurut mereka, kuliah di universitas itu lebih besar kesempatan suksesnya. Di samping itu, juga bisa menjaga gengsi.
Agi pun kuliah di Universitas Hayam Wuruk juga atas kehendak bapaknya yang sangat bangga jika punya anak kuliah di sana. Pak Made rela menjual kios satu-satunya demi memasukkan putranya ke universitas tersebut. Pak Made berpendapat bahwa dengan kuliah di Universitas Hayam Wuruk maka jika lulus putranya pasti cepat dapat kerja dan akan menjadi orang yang sukses.
Memang sih pendapat Pak Made ada benarnya. Tapi Agi sendiri menganggap bahwa pekerjaan dan kesuksesan itu adalah nasib. Jadi kuliah di universitas favorit pun kalau nasibnya tidak dapat kerja dan tidak sukses ya tetap tidak dapat kerja dan tidak sukses. Lagian Agi mau kuliah sebenarnya bukan untuk cari kerja ataupun menjadi orang yang sukses. Agi mau kuliah adalah untuk mencari ilmu dan sebenarnya itu bisa di mana saja tanpa harus di kampus, tanpa harus mengeluarkan duit yang seabreg jumlahnya.
Sepertinya Agi malah tertekan dan tidak cocok kuliah di kampus yang diidolakan itu. Ia tidak punya semangat dalam menjalani kuliahnya. Ia lebih bersemangat untuk belajar mengarang, membaca, dan menulis puisi sambil mengkhayal.
Sebenarnya Agi ingin keluar kuliah, apalagi setelah ada seniornya yang menawari kerja di sebuah penerbit buku tempatnya bekerja. Tapi bagaimana tanggung jawabnya kepada sang bapak yang sudah susah-payah membiayai kuliahnya sampai rela menjual kios-nya?
“Hai Gi, tumben berangkatnya awal!” sapa Ledo, teman seangkatannya.
Agi yang mulai tersadar dari lamunannya, menatap lelaki yang bertubuh tinggi besar itu. Kemudian ia bilang, “Oh... ini tadi aku kira masuknya pukul tujuh...”
“Lho, kan kemarin Profesor Komal bilang, kalau mulai hari ini masuknya pukul sembilan!”
“Iya, aku lupa...”
Agi memang sering lupa sama jadwal kuliahnya sendiri. Ya lupa sama jamnya, lupa sama ruang kuliahnya, serta lupa sama materinya. Bahkan pernah, suatu ketika dia lupa di mana letak kampusnya. Sungguh keterlaluan.
Tak selang lama, teman-teman Agi yang lain pada datang dan saling sapa. Terus saling nanya tentang tugas: “Ada tugas nggak sekarang? Kalau tugas kemarin bahannya dapet belum? Kalau dapet pinjam dong untuk foto copy.” Parahnya, mereka sering copy-paste atau mengganti nama saja pada kerjaan temennya yang sudah jadi. Biasalah mahasiswa instan, sukanya juga makan mie instan, apalagi plus telor. Lho!?
Memang, setiap mata kuliah pasti disuruh bikin makalah, rasanya ngebosanin sekali. Juga diskusinya, itu paling dibenci oleh Agi. Menurutnya, metode kuliah semacam itu bukannya membuat pinter tapi malah lier dan hanya akan menguntungkan mahasiswa tertentu saja.
Bagi mahasiswa yang berkaliber model dirinya, metode semacam itu tidak cocok karena daya transfernya lemah. Bahkan tidak ada ilmu yang terserap, hingga membuatnya menjadi pong-pong bolong. Tapi jangan percaya deh, itu hanya pikiran Agi saja. Ia memang anak pemalas, jagan ditiru. Buktinya tuh lihat, ia lagi garuk-garuk selangkangannya. Sebab celana dalamnya tadi juga tidak ganti. Gatel!
Pukul sembilan kurang sepuluh menit, Profesor Komal tampak memasuki ruang kuliah G. 111. Semua mahasiswanya, termasuk Agi pun langsung mengikuti. Jadwal kuliah hari itu adalah diskusi dan yang mendapat giliran untuk maju adalah kelompok dua.
Kelompok dua pun sudah siap membahas materi diskusinya. Tiga orang anggota kelompok dan seorang moderator telah maju ke depan dan duduk di kursi yang telah dipersiapkan menghadap mahasiswa lain. Setelah moderator membuka diskusinya, salah seorang pemakalah langsung membacakan makalahnya dan mahasiswa yang lain menyimak.
Seperti biasa Agi pura-pura ikut menyimak. Namun sebenarnya pikirannya melanglang buwana. Kadang teringat wajah Auna, kadang teringat rumahnya, kadang teringat komputernya. Ya ampuuun, komputernya belum dimatikan! Tapi tenang saja, memang komputernya tadi tidak dinyalakan. Hehe…
“Silakan teman-teman yang mau bertanya, memberi tanggapan, atau masukan saya persilakan?” ucap sang moderator.
Kalau sudah gitu, Agi hanya menunduk dan tidak punya cita-cita sedikit pun untuk bertanya, lebih-lebih memberi tanggapan, males! Dasarnya sudah bleng duluan sih. Ia malah asyik memandang mahasiswi kampusnya yang lewat di balik jendela sambil menilai-nilai mereka. Ada yang ia kasih nilai A-, ada yang ia kasih nilai B dan kebanyakan nilai C+. Kayak dosen saja bisa kasih nilai.
+++++>

Wanita Titisan Surga
Malam Minggu adalah malam yang special. Malam yang biasa digunakan oleh sebagian besar pemuda kampung di Yogyakarta buat ngapelin ceweknya. Malam yang pas buat cari hiburan. Malam yang asik buat nongkrong. Malam yang tepat buat ngehabisin minyak wangi warisan nenek-moyang.
Saat Malam Minggu, di kamar-kamar hotel, di cafe-cafe, di club-club malam, di warung-warung kaki lima, sampai di taman-taman pinggir jalan, mudah ditemukan ungkapan-ungkapan cinta, kata-kata mesra, serta rayuan-rayuan gombal. Sedang di WC-WC akan mudah ditemukan bau pesing.
Malam Minggu adalah malam yang tidak boleh disia-siakan. Malam yang tidak boleh tanpa ada pesta. Malam yang wajib buat pacaran, tentunya bagi yang punya pacar. Tapi bagi spesies jomblo, malam Minggu adalah malam yang kelabu. Malam yang terasa begitu panjang dan begitu menyiksa. Hingga menjadi malam yang sangat dibenci dan tidak pernah diakui adanya.
Adanya malam Minggu hanya akan membuat para makhluk jomblo merasa kesepian dan merana. Membuat mereka merasa jauh dari cinta. Sampai membuat hidup mereka di dunia seperti tidak ada artinya.
Di malam Minggu, para makhluk jomblo akan tampak identitas kejombloannya. Karena biasanya mereka hanya mengurung diri di dalam kamar. Kalau tidak ya hanya ngobrol dengan makhluk sejenis. Atau malah hanya ngobrol dengan boneka mainannya. Dan saat diajak bicara, boneka pun diam saja hingga si pemilik marah terus melemparnya, tapi kemudian diambil lagi, dielus-elus, dan diajak bicara lagi.
Begitu juga dengan Agi yang berpredikat jomblo, ia tidak pernah menganggap kalau malam Minggu itu ada. Persetan dengan malam Minggu. Buatnya, malam Minggu itu sama saja dengan malam Senin, malam Selasa, malam Rabu, dan malam-malam lainnya. Seperti di malam-malam lainnya, kebiasaan Agi di malam Minggu yang sering dilakukan adalah mengurung diri di dalam kamar.
Kamar Agi tidak begitu luas, ukurannya 3 x 3 m. Perabotan dalam kamar cukup sederhana. Seluruh temboknya diliputi cat berwarna ungu. Di suatu sisi tergantung sebuah foto ibunya dalam sebuah figura berwarna hitam. Dalam foto wanita berwajah cantik itu, pada bagian bawah ada tulisan berbunyi: Wanita Titisan Surga dengan tinta emas.
Di dalam kamar, biasanya Agi suka ngedengerin lagu-lagu yang romantis. Lagu-lagu yang membuatnya bernostalgia akan kejadian-kejadian indah. Hingga ia bisa membayang wajah Auna sambil mengelus-elus gulingnya dengan mesra.
Terkadang Agi menyuruh Pak Made untuk memijitnya. Entah lelah karena apa, kok Agi sering minta dipijitin. Mungkin itu hanya alasan supaya ia bisa curhat sama bapaknya. Supaya bisa berbincang-bincang tentang wanita idaman. Yang pasti, supaya tidak kesepian.
Kalau bapaknya lagi tidak mau mijit, Agi akan meminta kakek Suro yang gemar mendongeng untuk menemani. Sejak kecil, Agi suka mendengar dongeng dari kakeknya itu. Tapi sampai sekarang dongeng yang dibawakan selalu sama, yaitu: Si Kancil Mencuri Timun.
Karena selalu sama, Agi pun menjadi hafal di luar kepala. Hingga ia sering menebak duluan apa yang akan diucapkan oleh Sang kakek. Lama-lama, beralih Agi yang bercerita dan Kakeknya cuma mendengarkan sambil mengangguk-nganggukkan kepala dengan mata terpejam, karena ngantuk.
Kakek Suro pun bangga, ternyata cucunya itu mampu mewarisi sebuah dongeng yang diwariskan oleh kakek moyangnya secara turun-temurun. Sang kakek berharap supaya Agi nanti juga mendongengkan kepada anak dan cucunya.
Tapi malam Minggu kali ini, Agi betah menghadapi komputer sontoloyo-nya. Mengapa sontoloyo? Karena loading-nya minta ampun lamanya. Apalagi jika untuk grafis, cuma menggeser gambar sedikit saja nunggunya sudah bikin badan pegel-linu-encok dan bibir pecah-pecah.
Walaupun sontoloyo, komputer itu termasuk baru, meskipun cuma casing-nya tok. Komputer itu dibeli sebulan yang lalu. Agi minta dibelikan komputer karena ternyata kuliah di sejarah sangat membutuhkan alat canggih itu. Terutama untuk mengetik tugas-tugas makalah yang hampir tiap hari ada. Sebenarnya kalau cuma untuk ngetik, di rumah Agi sudah ada mesin ketik manual warisan ibunya. Tapi Agi tidak mau pakai. Katanya, dari pada pakai mesin ketik, lebih baik sehari makan tiga kali. Apa hubungannya coba?
Agi betah di depan komputer karena ingin membuat sebuah novel. Ia memang bercita-cita menjadi seorang penulis fiksi. Ia ingin menjadi penulis fiksi yang sukses seperti JK Rowling, si penulis Harry Potter itu.
Agi membuat novel tentang cita-cita cintanya yaitu punya kekasih seperti sosok ibunya. Menurut cerita bapaknya, Ibu Agi adalah sosok wanita yang benar-benar wanita. Dia wanita yang terpuji baik fisik dan hatinya. Dia juga wanita yang mampu membuat Pak Made menjadi seorang muslim. Karena semua itu, Pak Made menyebutnya sebagai “Wanita Titisan Surga” seperti yang tertulis pada foto yang terpajang di kamar Agi. Dan Agi beranggapan bahwa sosok ibunya itu telah menjelma pada diri Auna Baby Pink yang sekarang menjadi inspirasinya.
Agi mulai suka menulis sejak ikut orientasi mahasiswa baru tingkat jurusan. Ia termotivasi oleh cerita seniornya bahwa menulis adalah jalan gampang menuju kesuksesan.
Begini kata seniornya: “Dengan menulis orang bisa sukses. Bisa menjadi kaya dan terkenal. Bisa juga dapat pacar, kalau nulisnya nulis surat cinta. Hahahaha...”
Masih kata seniornya: “Menulis itu sangatlah mudah. Tinggal beli pensil seharga seribu rupiah dan buku tulis seharga dua ribu rupiah. Kalau nggak punya duit untuk beli pencil dan buku tulis ya bisa pinjam milik adiknya dulu. Kalau nggak punya adik ya tinggal ambil arang di dapur dan menulis di tembok kamar tamu. Dan dijamin pasti akan ada yang marah. Hahahaha…”
Masih kata seniornya lagi: “Saat menulis, kita nggak perlu memikirkan hal-hal yang ditakuti. Apalagi memikirkan sejak kapan anjing menggonggong. Biarkan anjing menggonggong, yang penting kita mulai nulis saja. Ayo menulislah! menulislah apa saja sebisamu! Asal bukan menulis tentang aku. Hahahaha...”
Kini Agi telah membuktikan kata-kata seniornya itu. Tapi nyatanya menulis itu benar-benar sulit. Saking sulitnya, sudah dua minggu novelnya ditulis, tapi baru dapat satu halaman. Padahal hampir tiap hari Agi nulis sampai sering meninggalkan tugas kuliahnya, tapi jumlah halamannya seperti tidak bertambah-tambah. Malah berkurang.
Berjam-jam di depan komputer, Agi hanya mampu menulis sebuah kalimat atau kata saja. Sering juga tidak jadi nulis karena bingung apa yang mau ditulis. Jadi hanya bengong di depan komputer, sambil mengkhayal novelnya laku keras hingga menjadi kaya dan terkenal. Terus mempersunting seorang putri yang cantik jelita. Secantik neneknya ketika belum disentuh Sang Kakek.
+++++>
“Dok-dok-dok!” terdengar ketokan pintu di kamar tamu.
“Ya sebentar!” seru Pak Made yang lagi menjahit celana bolong milik Agi. Kemudian dia membukakan pintu. Terlihat sesosok pemuda yang wajahnya mirip Leonardo DiCaprio (bintang tampan dalam film Titanic), jika ngelihatnya dari jarak seratus kilo. Tapi setelah diamat-amati memang ada miripnya kok, walau cuma sehelai bulu hidungnya saja.
“Pak, Aginya ada?” tanya pemuda itu.
“Tuh, lagi di kamarnya. Masuk aja!” suruh Pak Made.
Si Leonardo pun masuk menuju kamar Agi. Bukan deng, namanya bukan Leonardo. Sebaiknya memang saya perkenalkan dulu tokoh lakon ini. Mungkin menulis tentang dirinya perlu beberapa giga. Tapi saya akan mengusahakan dengan seluruh tenaga biar jadi kilo-bite saja.
Nama panjangnya: Reko Hanggoro Kasihono bin Siapah. Umurnya sembilan belas tahun lebih lima menit. Badannya pendek kekar alias pendekar. Wajahnya bulet kelapa. Rambutnya keriting. Suara tawanya kayak kuda merengek; “Hek-hek-hek.” Satu lagi, ada tahi lalat besar berwarna hitam di ujung hidungnya.
Reko adalah teman seperjuangan Agi di Kampung Bau Pace. Dia selalu satu sekolah dengan Agi sejak di TK hingga SMA. Sejak lahir sampai sekarang, statusnya adalah jomblo basi. Menurutnya, Dia ngejomblo bukan karena nasib tidak laku-laku, tapi karena para cewek saja yang bodoh dan tidak tahu sudut-pandang ketampanannya.
Reko selalu berusaha tanpa malu menembak cewek walau selalu ditolak. Yang diingat saja sudah enam puluh tiga kali dia nembak cewek, yang tidak diingat mungkin lebih. Maka pantas saja bila dia dijuluki si muka badak banyak jerawatnya.
Menurut kabar burung entah burung apa, mungkin burung kurang kerjaan, terakhir Reko nembak cewek yang baru ketemu di pinggir sungai. Nembaknya gini: “Eh mbak, mau buang air yo? Aku bersedia lho jagain, asal mbak nanti mau jadi istriku, gimana?”
Jawabnya, “Hihhhhh...!” Dengan wajah menjep dan mengkeret memandang jijik lalu pergi sambil bergumam sendiri, “Dasar...! sudah jelek, sinting lagi.”
Sejak TK, Reko memang sudah suka neko-neko. Lebih-lebih dia suka mengintip ibu gurunya yang lagi pipis. Untungnya dia belum pernah kepergok kecuali oleh si tukang kebun.
Saat itu tukang kebun langsung memanggilnya: “Hei, sini kamu!” sambil mengisyaratkan untuk mendekat.
Reko kecil pun melangkah ragu-ragu mendekati tukang kebun. Lalu tukang kebun segera menanyainya, “Sedang apa kamu tadi!?”
Dengan agak takut Reko kecil menjawab jujur: ”Lagi ngin... tip bu guru pi-pip...pis Pak...!”
Tukang kebun melanjutkan: “Kok nggak ajak-ajak ngintipnya!?”
Reko kecil menjawab: “Lho... Bapak ini gimana to…, emangnya ngintip itu harus ajak-ajak…?”
Tukang kebun melanjutkan lagi: “Harus itu, besok lagi kalau ngintip ajak-ajak Bapak ya, Bapak kan juga pengen liat ibu guru pipis!”
Reko kecil ngomong dengan suara lirih: “Beres Pak! Tapi bicaranya jangan keras-keras...!”
Tukang kebun membalasnya dengan lirih juga: “Beres Nak...”
Setelah itu, tiap mau ngintip bu guru pipis, Reko kecil selalu mengajak si tukang kebun itu. Tapi sering, sebelum diajak oleh Reko, si tukang kebun malah sudah lebih dulu ngintip, asyik jengkang-jengking sendiri dengan mata menempel di lobang pintu. Dasar tukang kebun tidak tahu sopan-santun.
Tentang cita-cita, sejak SMA Reko bercita-cita menjadi orang nomor satu di Galaksi Bimasakti. Dia ingin menciptakan sebuah teknologi yang tidak tertandingi seperti mesin waktu, mesin untuk mengcopy otak-otak manusia, mesin penjinak wanita, dan kalau perlu mesin pencetak wanita cantik bin sexy. Busyeeeet!
Sebagai informasi buat kalian semua, sekarang Reko baru saja menyelesaikan misi kursusnya di Lembaga Pendidikan Infotekno. Dia kursus teknisi komputer selama tiga bulan. Jadi kursusnya memang kursus kilat. Tapi walaupun kursus kilat, kemampuan yang dimiliki oleh para alumni lembaga itu bisa diuji kehebatannya. Reko saja yang baru lulus dari situ langsung berani membedah TV satu-satunya. TV-nya itu, jika dinyalain suaranya tidak ada dan cuma ada gambarnya hingga ketika nonton acara konser musik terpaksa nyanyi sendiri. Dan berkat keberanian Reko, sekarang suaranya sudah ada, tapi gantian gambarnya yang ilang, jadi kayak radio.
Sebenarnya habis lulus dari kursus itu Reko sudah disalurkan kerja di pusat penjualan suku cadang komputer yang berada di Jalan Malioboro. Tapi dia tidak mau karena di sana banyak aturan seperti, tidak diizinin menjalankan ibadah, kerjanya siang malam, pengalaman yang diperoleh hanya dikit, dan gajinya juga cuma dikit. Tidak cukup buat liburan ke Paris. Cukupnya buat ke Parangtritis.
“Lagi ngerjain apa?” tanya Reko yang sudah nongol di pintu kamar.
Agi kaget atas kemunculan Reko. Buru-buru ia menutup program word-nya karena tidak ingin sahabatnya tahu kalau ia lagi nulis novel. Terus dengan nada ragu menyahut, “Enggaak... nggak ngerjain apa-apa kok.”
“Gimana kalau kita keluar!” ajak Reko.
“Kemana?”
“Lesehan gitu!”
“Boleh, tapi nanti kalau sudah jam sembilan, soalnya sekarang aku belum lapar nih.”
Saat itu jam weker Agi memang baru menunjuk pukul setengah delapan. Agi mulai memainkan winamp-nya. Memilih lagu-lagu yang enak didengarkan di malam hari, terus dimasukkannya ke playlist editor.
Sementara Reko sudah jongkok di belakang Agi. Kedua tangannya menyangga kepalanya yang super antik itu. Lalu ikut usul dalam memilih-milih lagu. Kalau dia, sukanya lagu-lagu yang model musik jathilan. Mentang-mentang dia mantan pemain jathilan.
Selanjutnya sebuah lagu dari Iwan fals yang berjudul Izinkan Aku Menyayangimu mulai mengalun. Lagu yang pas dengan perasaan Agi saat ini.
Andai kau izinkan
Walau sekedap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memuliki rasa...
Agi menyingkir dan pindah tiduran di kasur. Meletakkan guling di atas tubuhnya. Sedang Reko sekarang yang ganti main komputer. Seperti biasa, Reko suka menggambar dengan corel draw atau mengotak-atik foto dengan photoshop. Dia suka menjajarkan fotonya dengan gadis-gadis cantik, atau mobil mewah. Dan sekarang dia sedang mengganti bagian kepala dari fotonya dengan kepala wanita cantik, sungguh perpaduan yang kontras.
“Aku tadi ketemu Auna lho, aduuuh cuantiknya luar biasa gitu. pakaiannya agak sexy, baunya juga wangi, siip deh!” Reko mulai membicarakan wanita idola Agi. Soalnya dia tahu kalau Agi suka sekali dengan topik itu.
Agi pun juga tahu kalau sebenarnya Reko juga suka pada Auna. Tapi Agi membiarkan sahabatnya itu. Sebab ia yakin kalau Reko tidak mungkin bisa menaklukkan si Auna. Lihat saja wajahnya, kayak baru habis operasi plastik. Tapi sayang, plastiknya plastik bekas yang dipungut dari tong sampah paling bawah. Jadi hasilnya seperti itu.
“Kamu ketemunya dimana..?” Tanya Agi.
“Di tempat Veri. Tapi cuma sebentar, soalnya dia hanya mengantar tugasnya untuk diketikkan. Dan oleh Veri, aku malah disuruh mengetikan yang punya Auna to..!”
Veri adalah teman Agi dan Reko ketika di SMA dulu dan rumahnya juga cuma di Kampung Ringin, yaitu kampung di sebelah Selatan Kampung Bau Pace. Setelah lulus, dia membuka usaha Rental komputer. Nama rentalnya Flash Komputer dan itu adalah satu-satunya rental komputer yang berada dekat dengan Kampung Bau Pace. Maka pantas saja kalau Auna sering mengetikkan tugasnya di sana. Agi dan Reko pun juga sering main ke sana.
“Aku tadi juga ketemu Auna, malah ngobrol dengannya.” Ungkap Agi.
“Uh, pasti cuma di tempat Mbok Iyul.” Reko menyepelekan.
“Iya, tapi aku agak bingung sama dia?”
“Bingung gimana to?”
“Dia kan pinter masak, terbukti setiap lomba masak dia slalu juara.Tapi mengapa ya tiap pagi beli bubur ayam, kok nggak masak sendiri aja?”
“Mungkin karena kasihan sama kamu.”
“Maksudmu?”
“Kan kamu ndak iso ketemu dia kalau ndak di tempat Mbok Iyul.”
“Selain di tempat Mbok Iyul, aku juga sering ketemu Auna kok!” Agi beranjak dari tidurannya dan melempar bantal yang dipegangnya hingga mengenai Reko. Sementara Reko mencoba menangkisnya, tapi tetap saja bantal mengenai kepalanya. Jika sedang bersama, kedua makhluk ini memang cocok dan saling melengkapi. Seperti mentega dengan roti.
“Ko, kamu sebenarnya bosen nggak sih nganggur gini?” tanya Agi.
“Ya bosen to, aku tuh sebenarnya pingin kuliah seperti kamu.”
“Kuliah? Kuliah itu ngebosenin tau! Tugasnya banyak, dan ngehabisin duit banyak. Jadi mending kamu belajar sendiri aja secara otodidak.”
“Lho, tapi kan kalau kuliah bisa dapat ijazah dan bisa mudah cari kerja to?”
“Itu memang ada benarnya, tapi zaman sekarang kita jangan terlalu ngandelin ijazah, lebih baik ngandelin ilmu.”
“Iyo sih, makanya aku juga sering ke perpus cari ilmu.”
“Bukannya kamu ke perpus buat ngecengin cewek..!?”
“Itu sampingannya, hek-hek-hek..”
Keduanya terus ngobrol asyik sambil menunggu jam sembilan. Obrolan mereka juga merambah ke soal negara. Keduanya berangan-angan kapan bisa menjadi pemimpin negara ini. Dan jika jadi pemimpin nanti keduanya berjanji akan memajukan bangsa ini dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
+++++>
Pukul sembilan tet, Agi segera mematikan komputer sontoloyo-nya. Kemudian mengambil dompet di lemari, memakai jaket, menutup pintu kamarnya, mengeluarkan si Pitung, dan lets go.
Rencananya Agi dan Reko mau menuju ke Lesehan “Nduwur Kali” andalannya. Lesehan itu disebut Nduwur Kali karena letaknya memang berada di atas sungai. Di situ para pembeli bisa menikmati makanan sambil memandang hamparan sawah yang ada di Barat sungai serta indahnya langit di malam hari. Juga bisa melihat para pengguna jalan yang lalu lalang. Adapun menu yang disediakan antara lain bebek goreng, ayam goreng, merpati goreng, puyuh goreng, lele goreng, tempe goreng, pokoknya serba goreng, sedang minumnya kopi, jahe, jeruk, teh, susu, air putih dan semuanya ada yang panas ataupun dingin.
Lesehan Nduwur Kali sendiri, letaknya berada di Jalan Bantul. Dari Kampung Bau Pace keluar ke arah Barat melewati jalan kampung yang lumayan gelap dan tidak rata. Setelah sampai jalan Samas lalu langsung ke arah Utara sekitar dua kilometer. Di atas sungai yang berada di sebelah Timur jalan inilah lesehan Nduwur Kali bereksistensi.
“Hei, jangan peluk-peluk! Nanti kita dikira homo.” sergah Agi kepada Reko yang memeluknya mesra saat sampai jalan Samas.
“Biarin to.” Reko tidak mempedulikan perintah Agi dan tetap memeluk Agi sambil membayangkan kalau Agi adalah seorang wanita yang seksi nan wangi, meskipun sebenarnya jaketnya sudah lama tidak dicuci.
Naik motor di malam hari memang dingin. Apalagi dengan perut lapar dinginnya semakin terasa. Tapi jika dipeluk-peluk oleh makhluk berwajah angker seperti Reko, dinginnya terasa menjadi merinding, ngeri, dan menakutkan. Hiii...
Dalam waktu sekitar sepuluh menit, mereka sampai di lesehan Nduwur Kali. Lesehan itu sudah agak sepi. Biasanya lesehan itu ramai pembeli sebelum jam sembilan malam yaitu saat sepasang kekasih masih boleh berkeliaran. Maklum, jam pacaran di kampung dibatesin, yaitu cuma sampai pukul sembilan. Jika seorang cowok telat memulangkan pacarnya atau berada di rumah sang pacar sampai kelewat jam sembilan, maka si cowok akan ditangkap oleh pemuda kampung. Kalau beruntung cowok itu akan dinikahkan dengan si cewek, tapi kalau sedang apes maka si cowok akan dihajar ramai-ramai.
Seorang lelaki muda yang merupakan si penjual langsung menyambut Agi dan Reko, “Mau makan apa Mas?”
“Puyuh dua!” ucap Reko.
“Minumnya?” tanya penjual.
“Jahe Susu dua!” ucap Reko lagi.
Selanjutnya Agi dan Reko menunggu di tikar yang sudah tersedia. Mereka sengaja memilih di bagian yang agak jauh biar bisa bercakap-cakap dengan leluasa. Biar pembeli lain tidak mendengar percakapan mereka yang sebenarnya tidak penting untuk didengar itu.
“Gi, wanita idaman kamu tuh seperti apa to?” tanya Reko sambil senyum-senyum.
“Wanita idamanku...” Agi menahan bicaranya sambil memastikan kalau keadaan sekeliling aman. Terus melanjutkan dengan kepala manggut-manggut, “Yang wajahnya bulet seperti bulan purnama, karena yang wajahnya model ini biasanya awet muda.”
“Trus-trus?”
“Yang dahinya agak nonong.”
“Mengapa yang dahinya nonong?”
“Karena wanita yang mempunyai dahi nonong, biasanya dia mudah melahirkan.”
“Trus apalagi?”
“Yang namanya pakai na.”
“O, kalau ini aku tau sebabnya, karena kamu tergila-gila sama Auna to!”
“Bukan, bukan itu! Sebenarnya aku sendiri juga bigung mengapa aku bisa suka pada wanita yang namanya pakai na. Mugkin aku terlalu terobsesi saja dengan almarhumah ibuku. Dia kan namanya juga pakai na. Saya menganggap apa yang ada pada ibu adalah baik. Menurut bapakku, ibu adalah seorang wanita yang cantik, lembut, pinter masak, pokoknya wanita banget deh. Dia juga sabar membimbing bapak hingga menjadi muallaf. Hidup bersama ibu bagaikan berada di surga hingga bapak menyebut ibu sebagai Wanita Titisan Surga. Jadi aku pingin sekali punya istri seperti ibuku, ya minimal namanya pakai na.” suara Agi agak lirih.
“Wah aku jadi ingat cewek pertamaku dulu yang namanya juga pakai na.”
“Emangnya kamu pernah punya cewek?”
“Maksud aku tuh cewek yang aku suka pertama kali, itu lho gadis SMP Kenanga!”
“O... Ferdina maksudmu!”
Memang benar, saat SMA Reko sempat tergila-gila pada gadis kelas satu SMP yang bernama Ferdina. Itu lantaran tiap berangkat sekolah gadis itu lewat di tempat Reko menunggu bus.
Entah cinta monyet apa beruang, Reko selalu mengejar-ngejar Ferdina. Sampai suatu hari Reko pernah memaksa si gadis untuk berhenti dan dicium paksa. Lain hari, Ferdina sudah tidak pernah lewat lagi seperti biasanya. Bahkan dia buru-buru putar haluan jika melihat Reko. Mungkin dia ketakutan dan trauma dengan tingkah liar Reko.
“Kalau kamu, cewek idamannya seperti apa sih?” Agi balik nanya.
“Cewek idaman aku tuh, yang wajahnya cantik, kulitnya putih, bodinya sexy, kaya, dan yang pasti cocok di hati gitu.” jawab Reko lancar.
“Kalau nggak mau sama kamu gimana?”
“Ya kujadikan musuh bebuyutanku to!”
Perbincangan terpotong saat pesanan telah datang. Dua piring nasi, dua puyuh goreng, dua lepek lalapan, dua cobek sambel tomat, dua mangkuk air kobokan, dan dua gelas jahe susu telah tersaji. Lalu keduanya sibuk mengurusi makanannya masing-masing.
Reko melahap si puyuh dan kawan-kawannya dengan gaya ngebut. Sedang Agi dengan pelan tapi pasti juga mulai makan. Keduanya menikmati sajian itu dengan penuh selera.
“Eh Ko, aku ingetin ya, kalau kamu makannya sama cewek, jangan cepet gitu lho!” Ucap Agi sambil memegang puyuh-nya.
Si Reko tergesa-gesa menelan kemudian menyahut, “Emangnya kenapa to!?”
“Karena kalau ceweknya tau, orang yang makannya cepet itu menandakan bahwa saat bercinta juga cepet dan nggak bisa menikmati. Padahal cewek itu sukanya yang lama-lama biar nikmat.”
“Ah, kata siapa!”
“Kamu ini kalau dibilangin ngeyel sih!”
Keduanya kembali konsen pada makanannya. Memang benar, Reko menghabiskan seporsi puyuh goreng itu lebih duluan. Padahal Agi baru dapat separo.
Setelah menyeruput jahe susunya Reko bicara lagi, “Gimana Gi, di kampusmu ada yang cantik ndak?”
“Kalau yang cantik sih banyak, mau pilih yang model apa aja pasti ada. Tapi umumnya anak-anak borju sih. Pasti kamu akan mundur duluan.” sahut Agi sambil menghentikan kunyahannya.
“Kamu kali mundur. Kalau aku tuh siapa takut, cinta ndak pandang bulu gitu.”
“Emangnya ada cinta memandang bulu!”
“Maksud aku tuh ndak usah takut sama orang kaya, yang kaya kan cuman orang tuanya to!”
“Tapi emang di kampusku nggak ada cewek yang menarik, karena nggak ada yang seperti Auna.”
“Auna lagi-Auna lagi, kamu tuh jangan terpatri sama satu cewek! Nanti kalau dia dimiliki orang lain, kamu malah stres lho!”
Si Agi hanya diam. Saat ini ia memang tidak suka cewek mana pun selain Auna Baby Pink. Tapi itu hal biasa bagi orang yang sedang jatuh cinta dan jatuhnya ke jurangnya. Jadi sulit untuk pindah ke sekolah, eh, maksudnya pindah ke lain hati.
“Gi, besok kamu mau ke perpus ndak, kalau Minggu tuh banyak terwelu-nya lho!” maksud Reko, terwelu itu cewek-cewek cakep yang terlihat jinak.
“Iya, aku sudah tau, tapi apa gunanya kalau nggak ada yang kenal?”
“Lha bisa untuk cuci mata to!”
“Aku mau sih, tapi pakai motormu ya!”
“Beres, pokoknya besok jam setengah sepuluh aku samperin di rumahmu. Tapi awas, kamu kudu sudah siap lho!”
“Iya-iya!”
Agi pun sudah selesai makan. Lalu mencuci tangannya di kobokan yang tersedia. Terus menyeruput jahe susunya. Rasanya sungguh nikmat minum jahe susu di malam hari.
Sambil menyeruput jahe susunya, Agi dan Reko menengadah ke atas menyaksikan langit yang indah dengan bulan telanjang yang dikerubungi bintang-bintang terangsang. Terlihat sebuah pijaran cahaya apik terlempar dari langit ke Bumi.
“Aku ingin Auna!” Ucap Agi seketika.
“Kamu tuh ngapain, masih percaya sama bintang jatuh po?”
“Iseng sih, kebawa kata orang-orang.”
“Kamu tuh percaya sama takhayulan. Kalau mau dapat cewek itu ya usaha dong, kayak aku ini lho, selalu berusaha deketin cewek.”
“Tapi nggak ada yang berhasil kan!”
“Ya baru proses...!”
“Sama aja kalau gitu, mendingan nggak usah maksain deh kalau nggak bisa, buang-buang waktu dan tenaga aja!”
“Biarin to, yang penting usaha gitu, dari pada pasrah!”
Keduanya saling ngotot akan pendapatnya sendiri-sendiri. Dasarnya mereka beda paham sih, yang satu paham garis keras sedang yang satunya nggak paham-paham.
+++++>
Malam semakin kelam. Dingin mulai merasuk tulang. Namun ngobrol soal wanita semakin menggairahkan. Seperti tak ada habisnya, tak ada bosannya dan tak ada yang memarahi. Tapi karena perut sudah kenyang, rasa ngantuk mulai menyerang. Sesekali Reko menguap, disusul Agi, lalu Reko menguap lebih lebar dan terhirup bau busuk.
“Sialan! Kamu kentut ya!” umpat Agi.
“Ndak kok.” sangkal Reko.
“Ngaku aja deh!”
“Benar bukan aku lho, tapi lubang duburku, hek-hek-hek…”
“Benarkan, aku hafal kok kentutmu. Kentut yang baunya busuk begini kan cuma kentutmu.” Sambil menutup hidungnya dengan tangan supaya tidak kemasukan kentut Reko.
“Kata siapa, semua kentut baunya busuk gitu, walau kentut cewek cakep sekali pun. Eh, Gi, ngomong-ngomong kamu pernah dengar cewek kentut belum?”
Agi menggelengkan kepala dengan masih menutupi hidungnya.
“Kalau aku sering lho dengar cewek sebelah rumahku kentut, kalau kentut gini: “Breeeeeuuut..... breeeeeuuuuut..... ubrut-ubrut prut!” Reko menirukan suara kentut dengan memonyong-monyongkan mulutnya.
“Hah, si Sopi kentutnya gitu!” sambil mulai menghentikan menutup hidungnya.
“Bukan, bukan Sopi. Tapi neneknya.”
HAHAHA...! keduanya terbahak. Pembeli lain pun menatap heran. Hingga Agi dan Reko tertunduk malu.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya. Dua jam lebih Agi dan Reko ngobrol di Lesehan Duwur Kali hingga sudah dilirak-lirik sama penjual yang sebenarnya mau ngusir. Agi dan Reko pun memutuskan untuk mengakhiri obrolannya di lesehan itu.
“Nih, kamu yang bayarkan,” Agi menyodorkan uang pada Reko agar dia yang membayarkan.
Reko menolaknya, “Ndak usah, biar aku saja yang bayar. Kamu lupa kalau hari ini aku ulang tahun!?”
“O, kamu ultah hari ini, kalau gitu selamat ya! Semoga lekas dapat jodoh, meskipun tante-tante!”
“Sialan kamu.”
“Hehehe..”
Ulang tahun Reko memang jarang yang tahu karena tidak pernah dirayakan. Bahkan keluarganya sendiri juga tidak mau tahu hingga tidak pernah merayakan. Menurut orang tuanya, perayaan ulang tahun itu tidak penting dan tidak ada gunanya. Hanya akan menghambur-hamburkan uang saja. Boro-boro untuk merayakan ulang tahun, untuk biaya hidup saja pas-pasan. Sampai harus ngutang ke sana-sini.
“Nasi Puyuh dua dan jahe susu dua, jadinya berapa?” ucap Reko yang sudah berhadap-hadapan dengan penjual.
Penjual pun langsung berhitung dengan jari-jari kedua tangan dan kakinya, terus menjawab, “Semuanya lima belas ribu.”
“Nih pas, makasih ya!”
“Ya, sama-sama Mas.”
Setelah itu Reko langsung menghampiri Agi yang sudah menaiki Pitung-nya dan nangkring di jok belakang. Karena sudah malam, habis dari lesehan itu mereka langsung mau pulang. Pulang untuk menemui rumahnya, menemui tempat tidurnya, dan menemui gulingnya.
Di rumah, para guling pun sudah pada kedinginan dan menanti untuk dikelonin. Mereka selalu mendoakan:
Semoga majikan saya jomblo terus.
Amin...
Semoga tidak pernah dapat jodoh.
Amin...
Semoga saya dikelonin setiap hari.
Amin...
Itulah doa guling-guling sinting yang selalu tabah walau sudah diompolin beberapa kali oleh majikannya. Makanya kita perlu membalas doanya supaya semua guling yang ada di dunia malam ini diompolin lagi oleh para majikannya. Biar mereka kapok dan tidak mendoakan yang begitu lagi. Mari sama-sama kita mengucapkan!
Semoga malam ini aku ngompol banyak.
Amin...
+++++> BERSAMBUNG...

0 Response to "WANITA TITISAN SURGA"

Posting Komentar